Showing posts with label Perspektif. Show all posts
Showing posts with label Perspektif. Show all posts

Child Recruitment During Armed Conflict

Militant armies are the most important part to sustain from a war, most of them are adult with range from 18 to 35 years old. Being an army is not easy even for the trained person, they have to be prepare themselves from their inner heart. There are so much stress will happen from the beginning join the army until they retired. The retired army that ever experienced war before most likely have PTSD. 

PTSD is Post Traumatic Stress Disorder, the symptoms may include nightmares or flashbacks, avoidance of situation that bring back the trauma, heightened reactivity to stimuli, anxiety or depressed mood. This stress usually happen when they experienced a serious life threatens like they will die on that day. So when they're get retired most of the retirees will experiences it. 
Child Army
Child Army

Then, Can you imagine a kid suffers this stress? Being shadowed by death everyday? How can they survived? How will they lived for the next day? 

Recruiting a child to reinforce the army's strength is one of the part of child abuse, even thought they or those kids that recruited enjoy it.  

Invitation for recruitment will reach its peak when the militant adult having a bad times and they need reinforcement for their military flees as soon as possible.

As a person that never experienced or having a war, i think they have to stop this abuse and set the kids free to the shelter. Most of the kids forced to became a soldier at their young age by millitant.

Where is the parent's role on this case? 

Their parent allowed cause they're involved either directly or not. That makes them have to accept the militant recruitment for their child, because they have considered their present situation, and how they will survived for the next day or the next 12 hours or the next 3 hours. That's  why they gave their child especially their son. 

We know that child is the future for the family and the country, they will replace our place in future to lead and run the country, so if most of them died during the conflict ? Who will do that job ? old man can do that anymore, they even can't see a word clearly. So if  military child recruitment increased, the chances for the country to survive in future will decrease significantly, because the absence of the future generations. 

Author not saying that he's support the war, but this recruitment has to stop. The militant has to strengthen their forces, so they're not using child for reinforcement anymore. The other option is they have to train the kids before involve to the war, to increase the likelihood of survival during war.

The most important things are never let your child to join the military before they reach the proper age, and most importantly they have to stop this conflict. This conflict cause so much problem from economy, resources, and environment sides.
Read more

Memahami Eksistensi Diri

Pernahkah kamu mendengar kalimat ini? 

"Cogito Ergo Sum"


Mungkin sebagian dari kita pernah mendengarnya, tapi ada juga yang belum atau baru kali ini membacanya dari blogku atau memang jarang ada orang yang mengucapkannya.


RenĂ© Descartes, seorang filsuf Perancis yang mengemukakan ungkapan itu, "Cogito Ergo Sum" bermakna "Aku berfikir, maka aku ada". 

Eksistensi Diri
Eksistensi Diri

Berbicara eksistensi diri merupakan hal yang sangat berat, dalam dan rumit, tapi disini ga akan serumit itu dan ga bakal ku bahas ribet untuk masalah eksistensi diri.


Renungkan kalimat ini, "Perlukah eksistensi kita disini? untuk keluarga? untuk teman? untuk masyarakat? bahkan untuk dunia?".

Mempertanyakan eksistensi diri atau keberadaan diri kepada diri kita sendiri itu penting, sebab itu akan menolong untuk menentukan langkah kedepannya apa dan bagaimana.


Menyadari keberadaan diri disuatu lingkungan dapat membantu proses perkembangan diri, khususnya bagi remaja yang selalu mencari bagaimana ia harus berlaku atau bertindak. salah langkah dalam menentukkan peran dalam lingkungan dapat menyesatkan atau merugikan pribadi itu sendiri bahkan orang lain. 

Pernyataan terhadap kualitas diri dapat meningkatkan keberadaan dilingkungan, seperti memiliki sifat kepemimpinan, pandai berbicara, supel atau mudah bergaul bukan digauli, hal yang seperti ini membantu untuk menentukan peran kita dalam berinteraksi.


Tak semua orang punya sifat kepemimpinan, tak semua orang pandai bicara, tak semua orang mudah bergaul, lalu bagaimana bila orang itu tak punya apa-apa untuk ia banggakan?


Kita dilahir dengan karakteristik masing-masing, kepribadian masing-masing dan semua itu berbeda, tentu ada hal yang membuat kita layak untuk berdiri dikomunitas, pohon yang hanya diam berdiri diperlukan untuk bernafas, Batu yang beronggok ditepi pantai dibutuhkan untuk mencegah erosi, lalu mengapa kita sebagai benda yang bergerak, bahkan hidup tak dapat menentukan peran dalam hidup kita? 


Eksistensi diri tak perlu berlebihan atau ditonjolkan kalau kita memiliki kelebihan dan jangan pula dipaksakan untuk eksis hanya untuk diakui, hal itu hanya membuat stress.

Tentu semua manusia memiliki Hobi, baik itu yang bermanfaat atau tidak, yang hanya untuk senang atau sekalian pekerjaan, semuanya pasti memiliki hobi. Seperti Adi si pemain futsal, dia hobinya futsal, Dita si Penyanyi, hobi dia menyanyi, atau  Bobby si Pendengkur, hobinya tidur. Melalui hobi kita dapat menunjukan eksistensi diri kita, lakukan segala hobi yang disukai, usahakan hobi itu bermanfaat dan positif. Jangan seperti Ujang yang hobinya koleksi video lendir, atau Tarek yang hobinya Tawuran. Citra diri yang dibangun dari hobi akan melekat hingga dewasa.

Kalau begitu bagaimana bila orang-orang menyadari eksistensi diri kita melalu penampilan fisik? hal ini yang perlu diluruskan, sebab penampilan fisik bukan kekuasaan kita yang mengatur seperti apa bentuk wajah, hidung, alis, tubuh, dan sebagainya, itu semua diatur oleh yang maha kuasa, syukuri pemberiannya bila ada yang memanggil hal itu sebagai keburukan, jangan berkecil hati doakan dia semoga dibukakan pintu hatinya.

Semua kemungkinan untuk diaakuinya keberadaan adalah hal yang baik selama itu dilakukan dengan cara yang baik pula. Jangan mencari eksistensi dengan cara yang tidak sehat sekalipun itu berhasil, citra yang dibangun akan buruk akhirnya.

Untuk itu kita perlu arahkan diri, tentukan tujuan, untuk melangkah kedepan. Jangan berorientasi terhadap materi, dan jangan sekedar menjadi pribadi yang berbeda, tambahkan kualitas dalam perbedaan itu.

Oh iya ada info nih, untuk bulan depan (mungkin) bakalan ada cerita romansa remaja yang sedang ku garap, ya walaupun aku bukan remaja lagi tapi setidaknyakan pernah mengalami bagaimana menjadi seorang remaja yang sedang dilanda suka dalam cinta.

*image source : pixabay
Read more

Grojogan Sewu Indah namun tak Asri

Siapasih yang tak ingin traveling lihat spot wisata air terjun indah yang satu ini? Grojogan Sewu, air terjun dengan anak tangga kurang lebih 1250 buah untuk mencapainya, tapi jumlah itu tak membuat wisatawan putus asa untuk mencapai keindahan air terjun ini.

Pemandangan ini ku nikmati di pertengahan tahun disela libur lomba tingkat nasional, sejujurnya masih belum puas sebab, kala itu hujan mulai turun jadi volume air semakin meningkat kami pun harus angkat kaki dari situ agar tidak bahaya.


Pemandangan yang aku nikmatipun terasa sedikit hambar dan aku pun merasa perjalanan yang ditempuh untuk mendaki jalan setapak itu yang katanya 1250 biji anak tangga kurang terbayar, padahal testimonial dari orang-orang air terjun ini indah.

apa karena aku kurang wisata atau karena aku kurang bersyukur ? apalah itu aku ga tau kenapa, yang jelas ini kurang berkesan.

Grojogan Sewu ini menjadi air terjun pertama yang melekat dipikiran ku, sebab baru kali itu aku melihat langsung bagaimana air terjun itu. Hidup didaerah yang minim pegunungan dengan perbukitan yang bahkan sudah dikeruk membuat aku terisolasi akan hal beginian. 

Hal yang berbeda kala aku menapakkan kaki digerbang masuk tempat wisata Grojogan Sewu ini adalah udaranya, udara yang kurasakan dikota 180° berbeda dengan alam terbuka yang dikelilingi vegetasi hijau ini. Setiap tarikan nafas ku, ku iringi dengan rasa syukur karena masih dapat menghirup udara lembab nan segar yang kecil kemungkinan ku dapatkan diperkotaan, apalagi saat itu jam 10 pagi. 

Setiap langkah ku dijalan setapak yang disediakan, terbesit rasa kecewa setelah melihat lingkungan disekitarnya.

Bungkusan makanan, permen, kantong kresek, bahkan sendal jepit yang ditinggal pasangannya pun berserakan. Dari awal perjalanan setiap belokan selalu ada barang buangan manusia tak bertanggung jawab, bukan kotoran tapi sisa konsumsi yang sengaja di campakkan.

Harus aku limpahkan kesiapa kekecewaan ini, pengurus? mereka pun terlihat seakan jarang meninjau tempat yang diurusnya, pembiaran pun kerap dilakukan, ataukah aku menyalahkan pengunjung? banyak juga pengunjung dengan pemikiran "lah gue bayar, ya terserah gue dong" atau "yaelah dikit doang, banyak bener cincong lu", banyak juga diantara mereka yang tak punya rasa memiliki, rasa tanggung jawab, rasa cinta alam dijiwanya. Rasa memiliki, tanggung jawab, cinta alam tak harus ditunjukkan dengan menjadi pengurus, cukup simpel saja, JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN.

Kalau saja binatang itu bisa melawan, mereka akan datang kerumah kita dengan membawa kotoran yang mereka miliki lalu membuangnya tepat dilingkungan rumah kita, apakah yang kita rasakan saat itu? 

Bukan tak ada yang dapat disalahkan, tapi bagaimana membuat mereka bersalah? memupuk rasa bersalah dalam diri, menumbuhkan rasa cinta alam dalam diri harusnya ditumbuhkan sejak masih usia belia, bukan saat berbuat kesalahan. 

Melewati jalan yang sama seperti saat pergi, kembali aku ke kendaraan hanya dengan senang karena dapat menghirup udara yang segar, bukan senang karena air terjun. Sungguh realitas yang diluar ekspektasi, Kecewa diatas Harapan.

Semoga tulisan ini menjadikan aku dan pembaca agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan tetap menerapkan kode etik ini.

 " Take nothing but Picture, Leave nothing but Footprint, Kill nothing but Time"
Read more

Pantaskah Kita Marah dengan Terbaliknya Bendera ?

Asean Games 2017 baru aja kelar, tentu kita sebagai orang Indonesia ada beberapa hal buruk yang nyangkut dibenak kita tentang Acara ini, Mulai dari kecurangan wasit, Supir bus yang nyolong, Makanan atlet yang habis, sampai yang paling bikin emosi orang indonesia yaitu Bendera Terbalik.

Aku setuju dengan statement yang dibilang pak Mahfud MD, beliau bilang :

bendera terbalik
comot dari google

"Terus terang kita merasa marah dan sangat tersinggung dengan yang terjadi di Malaysia itu. Masa Malaysia bisa begitu cerobohnya membuat gambar bendera Indonesia terbalik." 
dan "Kalau pun dianggap ketidaksengajaan itu merupakan tindakan yang sama sekali tidak profesional di dalam melaksanakan tugas." 
lalu "Saya kira pantas banyak rakyat yang marah, saya sebagai warga negara juga protes keras karena itu bukan hal yang bisa dibuat lucu-lucuan karena itu simbol negara."

Gimana setuju ga? tentu kalian setuju dengan pernyataan beliau, dan dengan pernyataan ini kalian pasti semangat buat "Ganyang Malaysia".

Aku masih ingat gimana guru sejarah jelasin tentang "Ganyang Malaysia" ini, gimana jiwa nasionalisme pak Soekarno membakar semangat rakyat Indonesia, dengan situasi saat itu sangat memungkinkan untuk kita semangat membalas perlakuan buruk Malaysia kepada Indonesia.

Namun berbeda dengan sekarang, coba aku tanya.

Kenapa kalian marah - marah dengan bendera terbalik sementara kalian ngeluh dengan upacara bendera, kalian ngobrol selama upacara bendera, kalian main hp saat upacara bendera, kalian pura pura sakit saat upacara bendera, kalian ogah-ogahan belajar bahasa, tarian, alat musik dan budaya daerah indonesia, kalian jarang pakai batik, dan dengan atas nama trend dan gengsi kalian malu pakai produk lokal, Kenapa Marah?

Saat salah satu budaya kita diklaim oleh negara lain kita berkoar-koar layaknya orang kebakaran jenggot, dengan ucapan "ITU BUDAYA KAMI!!!".

Coba pikir, kalau memang itu budaya kita, perlakukan hal itu selayaknya seperti kalian memeliki sesuatu, kalian pelajari, kalian tanamkan dalam jiwa ini punya kami, bukan eta terangkanlah yang kalian viralkan.

Satu hal terakhir, 

Kalian pantas marah untuk hal ini selama kalian ga melakukan apa yg aku sampaikan, kalian ga berhak marah kalau kalian malah melakukan yang aku sampaikan.

Kalau kalian memang cinta akan bangsa ini, tanamkan sifat nasionalisme ke diri kalian, dan turunkan ke generasi yang lebih muda, karena pemuda adalah penggerak kemajuan suatu bangsa.

Terima Kasih sudah membaca.
Read more

Generasi Karet Generasi Nunduk

"Bro ngumpul yok!" atau "Coy, Kapan reunian nih!" kedengaran excited memang saat ada kawan yang ngajak buat ngumpul bareng atau hangout buat temu kangen atau sekedar ngobrol untuk 'time killing'.

Pas gua dapat ajakan untuk ngumpul begini, gua termasuk orang yang excited dengarnya, paling semangat dan paling ga sabaran untuk acara itu mulai. Soalnya bakal ketemu sama orang yang udah cukup lama ga jumpa atau buat sekedar 'killing time'.

Dengan segala hal telah diatur sedemikian rupa supaya semuanya bisa ngumpul bareng, pasti ada aja orang yang ga bisa datang. Buat gua sih, bagus memang kalian kerja atau ada kesibukan yang penting, tapi inget, apa salahnya sih buat luangkan waktu untuk bercengkrama dengan sobat di SMA atau tingkat pendidikan lainnya?  ga rugi kok hitung-hitung refreshing, mungkin siapa tau mereka bisa bantu kesulitan lu. Dengan lu datang gitu aja, lu udah bantu mereka hilangin rasa kangen ke sohib-sohibnya dulu. Ya kalau lu ga bisa karena ada suatu musibah itu mau gimana lagi, sudah takdir karena memang ga ada rencana buat hal itu. Jadi ya usahakanlah, sebab mereka adain beginian itu ga tiap hari atau tiap minggu atau tiap bulan, paling 6 bulan atau setahun, bahkan ada yang lima tahun sekali.

Generasi Nunduk
comot dari google

Oke balik lagi, hari yang ditentukan pun tiba, karena memang gua orangnya rada tepat waktu gua datang duluan ke tempat yang udah ditentuin. gua tungguin itu orang-orang sampai datang, 15 menit lewat, 30 menit lewat, 45 menit lewat,  60 menit lewat. Dah sejam nih belum ada yang datang juga gua pun mulai muak dengan kelakuan ga bagus ini.

Orang Indonesia bilang, "kalau ga ada aturan ketat, Jam orang Indonesia itu jam Karet, jadi jam berapa pun disuruh ngumpul. mereka bakal datang belakangan alias telat". statement ini nih yang mestinya di ubah, pola pikir gini yang mestinya diubah karena Janji ya Janji, Mesti lu tepati. Datang jam segitu, jam segitu juga mesti datang, kalau telat 5-10 menitan okelah pasti ada toleransi, ya kali telat sampai 1 jam gitu. Ngapain aja lu dijalan? Masak Roti? Cuci Baju? Buka Rental PS?. Tolonglah diubah sifat jelek ini juga, dengan tepat waktu kita banyak hal yang kita dapat, coba aja kalau ga percaya, kalau gua kasih tau ntar ga penasaran. 

Balik lagi, dengan perasaan muak mulai naik, gua pun berpikir untuk ga jadi ikutan acara ini walaupun udah sampe di tempat. Pas rencana gua mau pergi ini disusun datanglah mereka satu persatu. Ya tentu ga jadi gua pergi, mereka dah datang. Sebenarnya bisa aja gua pergi, soalnya gua datang tepat waktu, gua berhak dong marah dan pergi tinggalin tempat. ya lebih baik gua urungkan niat itu.

Dah pada datang semua nih, ya tentu acara mulai ya kan, ga pake MC juga lah, semuanya pada ngobrol gimana sekarang, kerja dimana, kuliah dimana, bla bla bla bla gua pun begitu.

Pasti di antara orang ngobrol itu bakal ada satu atau beberapa kampret yang nunduk. Gua oke aja kalau mereka nunduk karena ketiduran, mungkin capek yakan. Lah ini mereka nunduk main HP sepanjang temu kangen berlangsung. Pengen gua 'ngegas' "Itu otak dipake ga sih? ada orang ngomong didepan lu main HP, ada momen buat ngumpul lu main HP. next time lu ga usah ikut aja, kalau cuma bawa badan doang, tapi otak lu ga dibawa ke tempat", gua urungkan lagi niat gua ini, ya karena gua pengen ketemu juga, masa marah-marah abis ga ketemu sekian lama.

Gua pun gagas ide, Gua pinjem talenan dari kasir, terus gua bilang ini ke rekan - rekan gua semua.

"Karena gua datang duluan, gua ada aturan buat kita semua. HP tolong letak disini, yang pegang hp nya, apapun yang terjadi harus bayar semua pesanan sendiri!" sambil gua tunjukin talenan dari kasir tadi.

Beberapa dari mereka pun ga setuju, dan gua tanyakan tujuan mereka kemari buat apa? buat ngumpul atau main hp? dan mereka pun mau tak mau setuju dengan usulan gua yang rada ekstrim itu, Ekstrim buat maniak nunduk, buat gua sih engga.

Kelar kumpulin HP mereka pun mulai ngobrol satu sama lain, beberapa lirik-lirik hp nya dengan tatapan sedih, ada juga yang ga masalah dengan itu.

Acara pun kelar tanpa ada yang nunduk selama acara kumpul berlangsung dan hp mereka kembali dengan sejuta notifikasi yang baru ditinggal beberapa lama. Ga tau gua ngapain aja mereka sampai sebanyak itu notif nya, heran gua.

Sebenarnya masalah ginian itu adalah softskill dari pribadi masing masing. Dengan lu menghargai kawan dan lu datang tepat waktu aja lu sudah jadi orang hebat diantara bedebah-bedebah kampret itu.

Terima kasih buat lu yang udah ngerjain hal ini sebelumnya, terima kasih buat lu yang ada niatan untuk berubah. Gua berdoa untuk lu yang belum ada niatan untuk rubah sifat itu.

Pesan gua, jangan jadi generasi bedebah, generasi nunduk, generasi konsumtif yang gabakal bikin negara ini maju.
Read more