Memahami Eksistensi Diri

Pernahkah kamu mendengar kalimat ini? 

"Cogito Ergo Sum"


Mungkin sebagian dari kita pernah mendengarnya, tapi ada juga yang belum atau baru kali ini membacanya dari blogku atau memang jarang ada orang yang mengucapkannya.


RenĂ© Descartes, seorang filsuf Perancis yang mengemukakan ungkapan itu, "Cogito Ergo Sum" bermakna "Aku berfikir, maka aku ada". 

Eksistensi Diri
Eksistensi Diri

Berbicara eksistensi diri merupakan hal yang sangat berat, dalam dan rumit, tapi disini ga akan serumit itu dan ga bakal ku bahas ribet untuk masalah eksistensi diri.


Renungkan kalimat ini, "Perlukah eksistensi kita disini? untuk keluarga? untuk teman? untuk masyarakat? bahkan untuk dunia?".

Mempertanyakan eksistensi diri atau keberadaan diri kepada diri kita sendiri itu penting, sebab itu akan menolong untuk menentukan langkah kedepannya apa dan bagaimana.


Menyadari keberadaan diri disuatu lingkungan dapat membantu proses perkembangan diri, khususnya bagi remaja yang selalu mencari bagaimana ia harus berlaku atau bertindak. salah langkah dalam menentukkan peran dalam lingkungan dapat menyesatkan atau merugikan pribadi itu sendiri bahkan orang lain. 

Pernyataan terhadap kualitas diri dapat meningkatkan keberadaan dilingkungan, seperti memiliki sifat kepemimpinan, pandai berbicara, supel atau mudah bergaul bukan digauli, hal yang seperti ini membantu untuk menentukan peran kita dalam berinteraksi.


Tak semua orang punya sifat kepemimpinan, tak semua orang pandai bicara, tak semua orang mudah bergaul, lalu bagaimana bila orang itu tak punya apa-apa untuk ia banggakan?


Kita dilahir dengan karakteristik masing-masing, kepribadian masing-masing dan semua itu berbeda, tentu ada hal yang membuat kita layak untuk berdiri dikomunitas, pohon yang hanya diam berdiri diperlukan untuk bernafas, Batu yang beronggok ditepi pantai dibutuhkan untuk mencegah erosi, lalu mengapa kita sebagai benda yang bergerak, bahkan hidup tak dapat menentukan peran dalam hidup kita? 


Eksistensi diri tak perlu berlebihan atau ditonjolkan kalau kita memiliki kelebihan dan jangan pula dipaksakan untuk eksis hanya untuk diakui, hal itu hanya membuat stress.

Tentu semua manusia memiliki Hobi, baik itu yang bermanfaat atau tidak, yang hanya untuk senang atau sekalian pekerjaan, semuanya pasti memiliki hobi. Seperti Adi si pemain futsal, dia hobinya futsal, Dita si Penyanyi, hobi dia menyanyi, atau  Bobby si Pendengkur, hobinya tidur. Melalui hobi kita dapat menunjukan eksistensi diri kita, lakukan segala hobi yang disukai, usahakan hobi itu bermanfaat dan positif. Jangan seperti Ujang yang hobinya koleksi video lendir, atau Tarek yang hobinya Tawuran. Citra diri yang dibangun dari hobi akan melekat hingga dewasa.

Kalau begitu bagaimana bila orang-orang menyadari eksistensi diri kita melalu penampilan fisik? hal ini yang perlu diluruskan, sebab penampilan fisik bukan kekuasaan kita yang mengatur seperti apa bentuk wajah, hidung, alis, tubuh, dan sebagainya, itu semua diatur oleh yang maha kuasa, syukuri pemberiannya bila ada yang memanggil hal itu sebagai keburukan, jangan berkecil hati doakan dia semoga dibukakan pintu hatinya.

Semua kemungkinan untuk diaakuinya keberadaan adalah hal yang baik selama itu dilakukan dengan cara yang baik pula. Jangan mencari eksistensi dengan cara yang tidak sehat sekalipun itu berhasil, citra yang dibangun akan buruk akhirnya.

Untuk itu kita perlu arahkan diri, tentukan tujuan, untuk melangkah kedepan. Jangan berorientasi terhadap materi, dan jangan sekedar menjadi pribadi yang berbeda, tambahkan kualitas dalam perbedaan itu.

Oh iya ada info nih, untuk bulan depan (mungkin) bakalan ada cerita romansa remaja yang sedang ku garap, ya walaupun aku bukan remaja lagi tapi setidaknyakan pernah mengalami bagaimana menjadi seorang remaja yang sedang dilanda suka dalam cinta.

*image source : pixabay
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments