Grojogan Sewu Indah namun tak Asri

Siapasih yang tak ingin traveling lihat spot wisata air terjun indah yang satu ini? Grojogan Sewu, air terjun dengan anak tangga kurang lebih 1250 buah untuk mencapainya, tapi jumlah itu tak membuat wisatawan putus asa untuk mencapai keindahan air terjun ini.

Pemandangan ini ku nikmati di pertengahan tahun disela libur lomba tingkat nasional, sejujurnya masih belum puas sebab, kala itu hujan mulai turun jadi volume air semakin meningkat kami pun harus angkat kaki dari situ agar tidak bahaya.


Pemandangan yang aku nikmatipun terasa sedikit hambar dan aku pun merasa perjalanan yang ditempuh untuk mendaki jalan setapak itu yang katanya 1250 biji anak tangga kurang terbayar, padahal testimonial dari orang-orang air terjun ini indah.

apa karena aku kurang wisata atau karena aku kurang bersyukur ? apalah itu aku ga tau kenapa, yang jelas ini kurang berkesan.

Grojogan Sewu ini menjadi air terjun pertama yang melekat dipikiran ku, sebab baru kali itu aku melihat langsung bagaimana air terjun itu. Hidup didaerah yang minim pegunungan dengan perbukitan yang bahkan sudah dikeruk membuat aku terisolasi akan hal beginian. 

Hal yang berbeda kala aku menapakkan kaki digerbang masuk tempat wisata Grojogan Sewu ini adalah udaranya, udara yang kurasakan dikota 180° berbeda dengan alam terbuka yang dikelilingi vegetasi hijau ini. Setiap tarikan nafas ku, ku iringi dengan rasa syukur karena masih dapat menghirup udara lembab nan segar yang kecil kemungkinan ku dapatkan diperkotaan, apalagi saat itu jam 10 pagi. 

Setiap langkah ku dijalan setapak yang disediakan, terbesit rasa kecewa setelah melihat lingkungan disekitarnya.

Bungkusan makanan, permen, kantong kresek, bahkan sendal jepit yang ditinggal pasangannya pun berserakan. Dari awal perjalanan setiap belokan selalu ada barang buangan manusia tak bertanggung jawab, bukan kotoran tapi sisa konsumsi yang sengaja di campakkan.

Harus aku limpahkan kesiapa kekecewaan ini, pengurus? mereka pun terlihat seakan jarang meninjau tempat yang diurusnya, pembiaran pun kerap dilakukan, ataukah aku menyalahkan pengunjung? banyak juga pengunjung dengan pemikiran "lah gue bayar, ya terserah gue dong" atau "yaelah dikit doang, banyak bener cincong lu", banyak juga diantara mereka yang tak punya rasa memiliki, rasa tanggung jawab, rasa cinta alam dijiwanya. Rasa memiliki, tanggung jawab, cinta alam tak harus ditunjukkan dengan menjadi pengurus, cukup simpel saja, JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN.

Kalau saja binatang itu bisa melawan, mereka akan datang kerumah kita dengan membawa kotoran yang mereka miliki lalu membuangnya tepat dilingkungan rumah kita, apakah yang kita rasakan saat itu? 

Bukan tak ada yang dapat disalahkan, tapi bagaimana membuat mereka bersalah? memupuk rasa bersalah dalam diri, menumbuhkan rasa cinta alam dalam diri harusnya ditumbuhkan sejak masih usia belia, bukan saat berbuat kesalahan. 

Melewati jalan yang sama seperti saat pergi, kembali aku ke kendaraan hanya dengan senang karena dapat menghirup udara yang segar, bukan senang karena air terjun. Sungguh realitas yang diluar ekspektasi, Kecewa diatas Harapan.

Semoga tulisan ini menjadikan aku dan pembaca agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan tetap menerapkan kode etik ini.

 " Take nothing but Picture, Leave nothing but Footprint, Kill nothing but Time"
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai

No comments