Hampa

Gontai ku melangkah, dalam sedih ku berjalan. Angan menyapa hanya sekedar angan belaka yang memaksa tuk bersua.

Bukan maksud untuk menakuti, atau untuk menghantui. Rasa penasaran menuntunku tuk lewati jalan yang kau lalui. 

Hampa

Dada berdebar disetiap langkah kala ku lewati jalan yang serupa. Untung, aku bukan pemaksa.

Mata bersua tanpa senyum merekah, sungguh rasa nista untuk lakukan sapa. Dalam diam ku bertanya, engkau siapa.

Canda tawa bocah kecil yang kau bawa, semakin menghantui ku untuk ikut bercengkrama, bukan maksud tak sopan mungkin saja bisa berkesan.

Tak dapat ku memberi senyum tuk tatapan kedua, aku malu tuk begitu.

Ingin rasanya jalan mendekat tuk menyapa, atau bertukar kabar, tapi apa daya kita tak saling mengenal. 

Sungguh bagaimana cara yang baik untuk bersua? bertukar kata, saling menyapa. 

Sempat ku berpikir, tuk berlalu begitu saja tapi apa daya kita berjumpa diperhentian yang sama.

Ingin ku bertanya namamu langsung, namun sayang, bibirku beku kakiku mematung waktu pun terhenti, hanya debar jantung yang terdengar kala diperhentian itu.

Hampa rasanya ku lewati kesempatan ini, tapi begitulah kenyataannya, kenyataan dari pecundang yang tak punya hak.

Hanya sajak liar ini yang dapat ku sampaikan, semoga kita bersua kelak. 

Comments

Post a Comment

Postingan yang Lain

Profesionalitas dengan Domain TLD

Oy Botak, Minggir!