Harusnya Aku Tak Melakukan Itu

Tangis bayi dalam dekap ku, Mengisi hari - hari senja ku.Tangan mungil cengkram jariku, Mata tertutup dengan nafas teratur.

Nak, jadilah orang yang berguna dewasa kelak, kataku.

Ingin sekali aku melakukan hal itu, Meniupkan kalimat doa di telinga cucuku
Mendengar gelak tawanya, tangisnya, dengan sepasang daun telinga keriput ku


Harusnya Aku tak Melakukan itu, sesalku.

Ingin rasanya bertemu menantuku, bersenda gurau dengan anggota keluarga baru ku
Ingin rasanya aku melakukan hal itu, serupa dengan tetangga ku lakukan

Namun angan sekedar angan, Harusnya Aku tak Melakukan itu.

"Selamat, Kamu berhasil", 

Sempat terlintas untuk mengucapkan itu dihari bahagiamu, dihari wisudamu.
bayangan dengan coretan baju di hari kelulusanmu, bayangan dengan setelan toga dihari wisudamu, bayangan dengan setelan jas di hari pernikahanmu.
Selalu menghantui benak ku, mengiris hati ini, lebih dalam lebih sakit daripada sayatan pisau dinadiku.

Pertengkaran kita kala itu, menghantui jiwa ku kala ku mendengar nama mu, melihat kamar mu, melihat baju kesayanganmu, melihat mainan kecil tercintamu.
Harapku saat itu engkau tetap dirumah, bukan berpaling dengan kuda besi yang kau cinta, hadiah ulang tahun yang kau sayang, malah itu yang merenggut jiwa dari raga mu.

Harusnya Aku tak Melakukan itu, sesalku.

Nak, dapatkah aku memutar waktu. 
Ingin ku, kita kembali duduk kita dengan sanak keluarga, bersantap bersama. Namun yang ku dapat hanya kau yang terbaring di hadapan keluarga kita. 
Sekelilingmu menyampaikan do'a, semoga engkau tenang disana.

Read more

Hampa

Gontai ku melangkah, dalam sedih ku berjalan. Angan menyapa hanya sekedar angan belaka yang memaksa tuk bersua.

Bukan maksud untuk menakuti, atau untuk menghantui. Rasa penasaran menuntunku tuk lewati jalan yang kau lalui. 

Hampa

Dada berdebar disetiap langkah kala ku lewati jalan yang serupa. Untung, aku bukan pemaksa.

Mata bersua tanpa senyum merekah, sungguh rasa nista untuk lakukan sapa. Dalam diam ku bertanya, engkau siapa.

Canda tawa bocah kecil yang kau bawa, semakin menghantui ku untuk ikut bercengkrama, bukan maksud tak sopan mungkin saja bisa berkesan.

Tak dapat ku memberi senyum tuk tatapan kedua, aku malu tuk begitu.

Ingin rasanya jalan mendekat tuk menyapa, atau bertukar kabar, tapi apa daya kita tak saling mengenal. 

Sungguh bagaimana cara yang baik untuk bersua? bertukar kata, saling menyapa. 

Sempat ku berpikir, tuk berlalu begitu saja tapi apa daya kita berjumpa diperhentian yang sama.

Ingin ku bertanya namamu langsung, namun sayang, bibirku beku kakiku mematung waktu pun terhenti, hanya debar jantung yang terdengar kala diperhentian itu.

Hampa rasanya ku lewati kesempatan ini, tapi begitulah kenyataannya, kenyataan dari pecundang yang tak punya hak.

Hanya sajak liar ini yang dapat ku sampaikan, semoga kita bersua kelak. 
Read more